Sayangnya Sahabat2 Kepada Baginda Rasulullah

Offline
01-25-2013, 07:11 AM, (This post was last modified: 01-25-2013, 07:12 AM by Geesya.)
#1

Hayati dgn penuh ikhlas dan kamu akan rasakan apa yang aku rasa:-


1) Mu’adz bin Jabal yang menjerti dan menagis
teresak-esak sehingga beliau pengsan oleh sebab
dapat berita tentang kematian Rasulullah SAW.

2) Rasulullah telah patah gigi di dalam perang
Uhud, berita itu sampai ke Awais dan Awais di
rumahnya sanggup mematahkan giginya sendiri
kerana hendak merasai apa yg Rasulullah telah
rasai.

3) Ada seorang pedagang minyak wangi, di
Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah
dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai
Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia
hanya mengucapkan salam lalu memandang
Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu hari
setelah dia ketemu Rasululllah dan dia pergi, lalu
tak lama kemudian balik dari pasar dan dia datang
kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya
ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya
takut dan tidak sanggup tidak dapat melihat tuan
seperti ini lagi.”

4) Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah
ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran
kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari.
Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya
di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada
malam hari Abu Ayub dan isterinya tidak sanggup
tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya,
semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan
dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau
bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan
kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui
hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub
diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau
atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.

5) Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah
terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu
mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia
bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah
terkejut lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!”
Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku
tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”

6) Rasulullah sedang membariskan pasukannya
karena Rasulullah selalu merapikan barisan
pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat,
mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu
perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian
Rasulullah datang dan memukul perutnya itu agar
dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu
memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau
diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam,
kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun
dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu,
lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas
kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi
engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu
Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba
sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium
perutnya. Rasulullah terkejut dan berkata: “Ada
apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya
Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh,
mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku
denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia,
sempat mencium perutmu yang mulia.”

7) Bilal yang selalu adzan semasa hidup
Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat
Rasulullah karena Bilal tidak sanggup
mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad
Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di
situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang
saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan
mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya
dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu
Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat
Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak
sanggup meneruskannya, dia berhenti dan
menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan
minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi
membaca adzan karena tidak sanggup
menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal
berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah
berguncang karena tangisan kerinduan akan
Rasulullah Saw.

8) Seorang budak bernama Tsauban sangat
menyayangi dan hatinya selalu merindukan
Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak
bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya.
Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu.
Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat
sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian
juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban
begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang
Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban
berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya
Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya
sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu
denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu
barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali.
Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah
cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama
denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga
yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di
syurga paling bawah atau yang paling
mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke
syurga langsung. Jika demikian, tentu saya tidak
akan bertemu denganmu lagi.” Rasulullah amat
terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun
beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan
surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan
urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah
wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi;
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya),
mereka itu akan bersama-sama dengan orang-
orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:
nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati
syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’:69).
Mendengar jaminan itu Tsauban pun tersenyum.
Hatinya menjadi tenang dan gembira kembali.






Possibly Related Threads...
3 Helai Rambut Rasulullah Antara Tarikan Pameran Di Melaka
Kisah Seorang Lelaki Yg Ingin Memukul Rasulullah Saw
Qasidah Ishfaq Lana - Darul Hadis. Syafaatkan Kami Ya Rasulullah
Qasidah Isyfa'lana Ya Rasulullah Ya Nabi "lirik" Please Share
Ilmu Perubatan Islam : Rasulullah Saw Tidak Pernah Ubati Pesakit Yg Datang Berjumpa
Baka Kucing Rasulullah صلى الله عليه وسلم‎
Senarai Tentera Badar Al-kubra Yang Diketuai Oleh Rasulullah S.a.w-313 Vs 1000
Bekas Tapak Rumah Kelahiran Baginda Rasullullah S.a.w Di Mekah.
Cara Rasulullah Saw Sambut Ramadhan
Sayangnya Rasulullah Kepada Umatnya
Offline
01-25-2013, 07:45 AM,
#2
(01-25-2013, 07:11 AM)Geesya Wrote:
Hayati dgn penuh ikhlas dan kamu akan rasakan apa yang aku rasa:-


1) Mu’adz bin Jabal yang menjerti dan menagis
teresak-esak sehingga beliau pengsan oleh sebab
dapat berita tentang kematian Rasulullah SAW.

2) Rasulullah telah patah gigi di dalam perang
Uhud, berita itu sampai ke Awais dan Awais di
rumahnya sanggup mematahkan giginya sendiri
kerana hendak merasai apa yg Rasulullah telah
rasai.

3) Ada seorang pedagang minyak wangi, di
Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah
dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai
Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia
hanya mengucapkan salam lalu memandang
Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu hari
setelah dia ketemu Rasululllah dan dia pergi, lalu
tak lama kemudian balik dari pasar dan dia datang
kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya
ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya
takut dan tidak sanggup tidak dapat melihat tuan
seperti ini lagi.”

4) Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah
ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran
kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari.
Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya
di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada
malam hari Abu Ayub dan isterinya tidak sanggup
tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya,
semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan
dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau
bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan
kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui
hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub
diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau
atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.

5) Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah
terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu
mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia
bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah
terkejut lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!”
Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku
tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”

6) Rasulullah sedang membariskan pasukannya
karena Rasulullah selalu merapikan barisan
pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat,
mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu
perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian
Rasulullah datang dan memukul perutnya itu agar
dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu
memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau
diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam,
kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun
dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu,
lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas
kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi
engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu
Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba
sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium
perutnya. Rasulullah terkejut dan berkata: “Ada
apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya
Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh,
mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku
denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia,
sempat mencium perutmu yang mulia.”

7) Bilal yang selalu adzan semasa hidup
Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat
Rasulullah karena Bilal tidak sanggup
mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad
Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di
situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang
saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan
mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya
dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu
Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat
Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak
sanggup meneruskannya, dia berhenti dan
menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan
minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi
membaca adzan karena tidak sanggup
menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal
berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah
berguncang karena tangisan kerinduan akan
Rasulullah Saw.

8) Seorang budak bernama Tsauban sangat
menyayangi dan hatinya selalu merindukan
Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak
bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya.
Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu.
Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat
sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian
juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban
begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang
Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban
berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya
Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya
sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu
denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu
barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali.
Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah
cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama
denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga
yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di
syurga paling bawah atau yang paling
mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke
syurga langsung. Jika demikian, tentu saya tidak
akan bertemu denganmu lagi.” Rasulullah amat
terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun
beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan
surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan
urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah
wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi;
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya),
mereka itu akan bersama-sama dengan orang-
orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:
nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati
syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’:69).
Mendengar jaminan itu Tsauban pun tersenyum.
Hatinya menjadi tenang dan gembira kembali.





Allahumasoli ala saidina muhammad wa ala alihi wasah bihi wasalam



Users browsing this thread: 1 Guest(s)
Komen: 1 <<>> Dilihat: 1542
Sayangnya Sahabat2 Kepada Baginda Rasulullah
Geesya
66552
Forum Jump: